April 24, 2009 — candrapetra
Keterlibatan Dosen Belum Ada Pengaruh
SURABAYA - Keterlibatan dosen tim pengawas dalam pelaksanaan ujian nasional (unas) jenjang SMA hingga hari ketiga (22/4), belum banyak membawa perubahan. Bahkan, boleh dikata tidak jauh beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di beberapa sekolah, pengawasan masih relatif longgar.
Padahal, untuk membiayai keterlibatan dosen sebagai tim pengawasan tambahan itu telah dialokasikan anggaran tidak sedikit. Untuk seluruh Indonesia dananya mencapai Rp 83 miliar. Sedangkan untuk Provinsi Jawa Timur jumlahnya menembus Rp 18,2 miliar. Jumlah itupun semula dirasakan masih kurang. Mereka hendak meminta tambahan gubernur, tetapi Mendiknas tidak juga mengeluarkan surat edaran.
Sebagaimana pernah diberitakan, selain Tim Pemantau Independen (TPI), pada unas jenjang kali ini pengawas ditambah para dosen. Sebagian besar mereka berasal dari perguruan tinggi negeri (PTN) dibantu dosen dari beberapa kampus swasta. Penambahan personil pengawas itu diharapkan pelaksanaan unas lebih kredibel. Ke depan direncanakan nilai unas itu sebagai syarat masuk ke PTN sehingga tidak ada lagi seleksi.
Namun, faktanya, beberapa lembaga pendidikan masih banyak siswa yang bebas berbicara dengan temannya saat ujian berlangsung. Ada juga siswa yang melihat lembar jawaban teman yang ada di depannya. Kondisi itu tidak hanya di satu dua sekolah saja. Tetapi rata-rata yang didatangi Jawa Pos. Sementara tim pengawas tampak hanya duduk dan mengobrol dengan sesama pengawas ataupun dengan guru.
Ketua Pengawas dan TPI Unas Surabaya Bandung Aryy menjelaskan, pihaknya sudah bekerja semaksimal mungkin dalam melakukan pengawasan. Dikatakan, ada 153 pengawas dan 98 pemantau yang dikerahkan untuk menjaga ujian penentu kali ini. Berdasar laporan mereka, sejauh ini tidak ada kecurangan. Rata-rata pengawas dan pemantau hanya mencatat proses pelaksanaan ujian dan sedikit cacatan tentang siswa yang terlambat masuk sekolah.
Disinggung keterlibatan tim pengawas tidak banyak membawa perubahan, Bandung mengatakan bahwa yang lebih penting sebetulnya pengawas ruangan. Sebab, mereka yang seharusnya lebih mengetahui dan kalau ada indikasi kecurangan bisa melaporkan.
Dia menegaskan, tidak mungkin pengawas yang diterjunkan mengetahui semua karena jumlah mereka terbatas. Hanya satu di setiap sekolah. ”Jumlah itu seharusnya ditambah,” katanya.
Sementara itu, proses scanning lembar jawaban ujian nasional (LJUN) ternyata tidak berjalan seperti yang diperkirakan. Semula satu mesin scanning diestimasikan bisa memindai seribu lembar per jam. Kenyataannya, satu mesin hanya bisa memindai 500 LJUN per jam. Jika tidak ada solusi, bisa jadi pemeriksaan jawaban itu terancam molor.
”Kami masin belum menemukan celah untuk mempercepatnya. Tapi, ini masih dicari,” ujar Ketua Panitia Tim Pengawas Unas Jatim Syafsir Akhlus
4.27.2009
Pengawasan Unas Masih Longgar
Sumber: Candrapetra

0 komentar:
Posting Komentar