April 26, 2009 — candrapetra
JAKARTA - Masih banyaknya pelanggaran dalam ujian nasional (unas) SMA diharapkan tidak menular pada unas SMP yang berlangsung besok. Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP) menargetkan unas jenjang SMP/MTs pada 27-30 April bisa lebih baik. Salah satu problem utama unas yang diantisipasi adalah bocornya soal ujian.
Karena itu, Ketua BSNP Prof Eddy Mungin Wibowo melarang sekolah mengambil naskah soal di rayon maupun polsek sebelum waktunya. ”Harus pada hari-H ujian. Sebab, rawan terjadi kebocoran,” ujarnya kemarin (25/4). Jika kebocoran masih terjadi, kepala dinas pendidikan setempat harus turun tangan dan menindak sekolah yang melanggar.
Merespons buruknya kualitas percetakan soal unas SMA, BSNP telah mengevaluasi agar kejadian seperti itu tidak terulang. ”Harus dicek. Ya kualitasnya maupun isi soal yang ada dalam amplop. Jangan sampai tertukar lagi, paket soal A masuk ke amplop paket soal B dan sebaliknya,” jelasnya.
Pihaknya juga mewanti-wanti sekolah agar tidak sekali-kali membuka soal ujian. ”Sesuai POS (prosedur operasional standar), hal itu tidak diperbolehkan,” ujarnya. Begitu ada kelebihan, lanjut dia, soal unas harus dimasukkan lagi ke dalam amplop.
Untuk pengamanan naskah soal, dinas pendidikan setempat diperkenankan bekerja sama dengan kepolisian. Dengan catatan, pengamanan pihak kepolisian sebatas di rayon atau polsek. ”Kalau di sekolah, lebih baik cukup diserahkan ke TPI (tim pemantau independen). Kecuali, mereka menggunakan pakaian preman sih nggak masalah,” tuturnya. Hal itu menghindari siswa merasa tidak nyaman.
Selain itu, untuk mencegah beredarnya kunci jawaban melalui pesan singkat (SMS), BSNP meminta pengawas memperketat penggunaan handphone di dalam ruangan. Jangan sampai siswa membawa alat komunikasi di dalam kelas. Kekhawatiran munculnya kunci jawaban itu disebabkan banyak siswa yang tidak lulus tahun lalu gara-gara menyontek jawaban palsu yang beredar.
BSNP juga meminta sekolah lebih disiplin dalam mematuhi aturan yang sudah disepakati. Pihaknya mengimbau agar kasus Bengkulu -16 Kasek mengambil soal unas- tidak terulang. ”Kalau sekolahnya saja melanggar, bagaimana dengan muridnya. Ini harus menjadi perhatian,” ujarnya.
Koordinator Pengawas dan Tim Pemantau Independen (TPI) Nasional Haris Supratno mengatakan, berdasar evaluasi sementara unas SMA, masih terjadi banyak persoalan. Karena itu, menjelang unas SMP, pihaknya berkoordinasi dengan perguruan tinggi negeri (PTN) yang ditunjuk untuk mengawasi unas. ”Kami minta TPI lebih proaktif. Sebab, kewenangan TPI tahun ini lebih luas. Mereka diperkenankan masuk ruangan apabila terjadi pelanggaran,” imbuhnya.
TPI juga harus mengawal unas, mulai penyimpanan naskah soal di polwil hingga pendistribusian ke sekolah. Dengan demikian, tidak ada celah bagi Kasek untuk mencuri soal. Tahun ini jumlah peserta unas SMP/MTs sekitar 3.575.987 orang. Ada empat mata pelajaran yang diujikan. Yakni, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, IPA, dan matematika.
4.27.2009
Tekan Pelanggaran Unas SMP, Tindak Tegas Sekolah Nakal
Sumber: Candrapetra

0 komentar:
Posting Komentar